Ageboy Blog: http://ageboy.blogspot.com/2012/04/cara-agar-blog-tidak-bisa-di-copy-paste.html#ixzz24Xr1u9K7 HOT neWs ( Berita Artis ): Di Balik Keramahan dan Seragam Rapih SPG Bisa Dipakai

Selasa, 21 Agustus 2012

Di Balik Keramahan dan Seragam Rapih SPG Bisa Dipakai

Dibalik Keramahan dan Seragam Rapih SPG
img

Ketika memandang muka-muka ramah SPG (sales promotion girls) atau pramuniaga yang berseragam rapih di toko swalayan, saya teringat belasan tahun lalu ketika saya menjadi manajer  Departemen Store di sebgau kota di Nusa Tenggara Timur.
Yang saya tahu di toko yang jumlah pelayannya lebih dari 100 orang itu,  sebagian besar dari mereka itu berasal dari keluarga yang kelas ekonominya sedikit di atas garis kemiskinan. Orang tuanya tidak mampu mengkuliahkan mereka sehingga mereka memiliki waktu yang cukup panjang antara selesai sekolah dengan menunggu datangnya jodoh.
Memang, sebagian pramuniaga-pramuniaga itu bekerja sekedar mengisi waktu luang dan hasilnya hanya dipakai untuk senang-senang dia sendiri, tetapi tidak sedikit dari mereka adalah penopang keluarga yang membelikan buku pelajaran dan pakaian sekolah adik-adiknya, membayarkan kontrakan yang dihuni keluarganya, bahkan membantu orangtua menafkahi keluarganya.
Mereka adalah perempuan-perempuan tegar, tidak cengeng dan enerjik. Ketidakmampuan orang tuanya membiayai kuliahlah yang membedakan mereka dengan wanita-wanita karir yang menjadi eksekutif itu. Mereka adalah pribadi-pribadi yang sadar bahwa meratapi nasib bukanlah jalan keluar untuk memperbaiki kehidupan.
Ketika bertugas, mereka harus selalu ramah, tidak boleh kesal atau jengkel terhadap pengunjung yang mengacak-acak barang tetapi batal membeli. Mereka harus ikhlas setiap saat harus menata barang dagangan demi imbalan yang besarannya sekitar UMR tersebut. Padahal tidak sedikit kejengkelan yang diperbuat oleh pengunjung yang mengusung filosofi “pembeli adalah raja”.
Sesungguhnya dibalik keramahannya itu mereka lelah, jenuh, kaki pegal karena selama bertugas tidak diperkenankan duduk. Lihatlah pada saat mereka istirahat di gudang atau ruang khusus karyawan, tidak sedikit yang menggantung kakinya (diluruskan dengan posisi ke atas sambil rebahan) untuk menghilangkan rasa pegal tersebut.
Pada saat istirahat makan, mereka harus mengakali agar sekecil mungkin mengeluarkan uang di tengah pusat perniagaan yang biasanya mahal-mahal. Maka tidak aneh jika makanan yang dibelinya tidak lebih baik dari para kuli atau tukang becak. Karena mereka lebih mementingkan berapa banyak uang yang akan tersisa dari hasil bekerjanya tersebut. Ya, mereka adalah kaum kelas dua yang mengais rezeki di antara relung kehidupan warga kelas satu.
Jika menemukan SPG  dengan pakaian seragam yang menggoda syahwat laki-laki, saya memandangnya sebagai refleksi ketidakberdayaan mereka. Hanya karena ingin mendapat pekerjaan, mereka terpaksa harus mematuhi aturan untuk berpakaian seperti itu.
Tetapi di luar semua itu, mereka adalah pejuang-pejuang keluarga yang perannya jauh lebih bermanfaat daripada remaja-remaja pengangguran yang sering bergentangan di mall-mall dan pusat perbelanjaan…


Tidak ada komentar: